Bogor, 25 Nopember 2009. Rendahnya konsumsi pangan asal ternak ini merupakan tantangan bagi peternakan untuk meningkatkan penyediaan pangan asal ternak, melalui peningkatan produksi dan produktifitas ternak terutama daging sapi. Permintaan daging sapi saat ini 6,5 kg/kapita/tahun, dan akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
Penyediaan daging untuk memenuhi permintaan dalam negeri selama ini dipenuhi melalui produksi lokal dan impor dalam bentuk daging maupun sapi bakalan, yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Kebutuhan daging sapi Nasional pada Tahun 2008, sebesar 60% dipasok dari produksi dalam negeri dan 40% dipenuhi melalui impor, yaitu dalam bentuk daging dan jerohan beku sebesar 70 ribu ton dan impor sapi bakalan mencapai 630 ribu ekor.
Peningkatan impor daging sapi dan sapi bakalan setiap tahunnya akan menguras devisa Negara yang sangat besar. Saat ini pengeluaran devisa Negara untuk keperluan impor tersebut telah mencapai 5,1 trilyun per tahunnya. Pengurasan devisa Negara ini akan terus berlanjut, jika penyediaan daging produksi lokal tidak ditingkatkan secara signifikan. Oleh karena itu, diperlukan terobosan untuk meningkatkan populasi ternak sapi dan produksi daging lokal melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang, belum optimal diberdayakan.
Berdasarkan kondisi tersebut, sejak tahun 2005 sampai dengan 2010 pemerintah telah mencanangkan program swasembada daging sapi, dengan target pengurangan impor ternak dan daging sapi dari 28% menjadi 10%, melalui pemberdayaan sumberdaya ternak lokal. Namun dalam pelaksanaannya program ini baru efektif mulai tahun 2008, sehingga keberhasilannya pada tahun 2010 tidak tercapai. Selanjutnya, sesuai dengan arahan Presiden pada pembentukan kabinet tahun 2009 - 2014 diamanatkan untuk melanjutkan swasembada beras dan daging sapi, maka Pemerintah menetapkan Kegiatan Prioritas Pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS) Tahun 2014 pada program prioritas Departemen Pertanian.
|