Rapat Koordinasi Teknis Nasional (Rakorteknas) tahun 2009 diselenggarakan sebagai forum yang tidak hanya membahas penjelasan program dan kegiatan pembangunan peternakan tahun 2009, namun juga membahas isu-isu strategis yang secara langsung maupun tidak mempengaruhi capaian kinerja pembangunan peternakan.
Tiga agenda utama yang akan dilaksanakan secara pleno yaitu Rencana Strategis Pembangunan Peternakan Tahun 2010-2014, paparan hasil Monitoring dan Evaluai pembangunan peternakan tahun 2004-2009. Diskusi panel juga membahas kebijakan dan regulasi pembangunan usaha pembibitan ternak, revitalisasi persusuan, dan Swasembada Daging Sapi dari sisi dukungan Komisi IV DPR, kebijakan makro dalam mendukung Swasembada Daging Sapi, serta perspektif Swasembada Daging Sapi dari kalangan akademis, dan paparan Blue Print Program Swasembada Daging Sapi 2014. Untuk membangun komitmen bersama di tingkat nasional maupun propinsi, maka Dirjen Peternakan yang rencananya bersama-sama dengan Menteri Pertanian akan memimpin rapat terbatas yang diikuti oleh Kepala Dinas/kelembagaan peternakan propinsi dan UPT.
Pembangunan peternakan dihadapkan pada berbagai tantangan dari lingkungan dalam negeri maupun lingkungan global. Dinamika lingkungan dalam negeri berkaitan dengan permintaan produk peternakan, penyedia bibit ternak, kualitas bibit, berbagai wabah penyakit ternak, serta tuntutan perubahan manajemen sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah dan partisipasi masyarakat. Sedangkan lingkungan global berkaitan dengan liberalisasi perdagangan global dan ketidak¬adilan perdagangan internasional, perubahan sistem dan manajemen produksi, konsumsi global, tuntutan terhadap perwujudan ketahan pangan dan pengentasan kemiskinan (Millenium, Development Goal) serta adanya kemajuan pesat dalam penemuan dan pemanfatan teknologi.
Rencana Strategic Direktorat Jenderal Peternakan disusun untuk menjamin dan menjaga kontinuitas dan konsistensi program pembangunan peternakan sekaligus menjaga fokus sasaran yang akan dicapai dalam satuan waktu tertentu. Selain itu Renstra akan menetapkan sasaran yang akan dicapai dengan indikator keberhasilan yang terukurdengan diversifikasi dan dijadikan acuan pengendalian dan evaluasi program.
Program Swasembada Daging Sapi 2014 merupakan program prioritas dalam rangka mendukung visi Ditjen Peternakan untuk penyediaan pangan hewan yang aman, berdaya saing dan berkelanjutan. Keberhasilan Program Swasembada Daging Sapi 2014 diharapkan dapat menekan laju import daging sapi yang jumlahnya semakin meningkat. Dengan jumlah populasi penduduk yang sangat besar, Indonesia menjadi pasar yang menarik bagi negara penghasil produk peternakan. Dari data yang diperoleh pada periode 2007-2008 terjadi peningkatan import daging sapi sebesar 9,42 %, yaitu 64.010 ton pads tahun 2007 menjadi 70.039 ton tahun 2008. Demikian pula impor sapi bakalan meningkat 28,29 % yaitu 496.369 tahun 2007 menjadi 639.913 ekor tahun 2008.
Ditengarai kecenderungan peningkatan import daging, sapi bakalan maupun sapi potong tidak hanya semata-mata karena kesenjangan permintaan dan penawaran, tapi disebabkan jugs adanya kemudahan dalam pengadaan produk impor (volume, kredir, transportasi) serta harga produk yang lebih murah. Kondisi tersebut menyebabkan peternak lokal tidak mampu bersaing dan kurang bergairah karena harga dagingrelatif murah.
Usaha dan industri peternakan dalam negeri tidak mampu berproduksi karena ketidak-mampuan dalam membiayai produksi dan biaya-biaya lainnya. Dalam jangka panjang masuknya import daging tersebut akan merusak usaha dan industri peternakan nasional. Hal ini dapat menyebabkan ketergantungan terhadap produk impor semakin besar.
Sesuai dengan arahan Presiden RI pada Sidang Kabinet yang lalu, maka telah ditetapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014 yang meliputi terjaganya swasembada beras dan meningkatnya swasembada bahan pangan pokok lainnya seperti jagung, kedelai, tebu dan daging.
Berdasarkan permasalahan dan isu-isu strategis yang dihadapi dalam pembangunan peternakan tersebut sudah saatnya pemerintah membangun komitmen bersama dengan berbagai pihak di segala tingkatan, untuk menyelamatkan usaha dan usaha dan industri peternakan di dalam negeri, tidak hanya untuk komoditas daging sapi/sapi potong, namun jugs perunggasan dan persusuan.
|