Kontribusi daging dari berbagai jenis ternak yang menggambarkan struktur produksi daging menunjukkan bahwa peranan daging unggas semakin meningkat dari 20% pada tahun 70-an menjadi 64,7% (1.403, 6 ribu ton) pada tahun 2008 dan diantaranya 16,3% (352,7 ribu ton) berasal dari unggas lokal. Perubahan struktur tersebut disebabkan semakin tingginya produksi daging unggas sejalan dengan meningkatnya industri perunggasan nasional. Sementara itu, industri sapi potong yang masih mengandalkan industri peternakan rakyat dengan dukungan pihak industri (feedlotter) belum mampu mengimbangi permintaan daging sapi domestik, kontribusinya malah berbalik yang pada tahun 70-an sebesar 53.5% dan pada tahun 2008 turun menjadi 16,3%. Fenomena yang terjadi adalah laju peningkatan daging unggas lebih tinggi dibandingkan laju peningkatan produksi daging sapi. Artinya dengan semakin meningkatnya teknologi pada industri perunggasan terjadi transformasi produksi dari dominasi sapi ke dominasi unggas.
Masalah penyediaan bahan baku pakan industri perunggasan, di mana sebagian besar bahan baku pakan ternak penting harus diimpor, impor jagung mencapai 40-50 %, bungkil kedelai 95%, tepung ikan 90-92%, serta tepung tulang dan vitamin/feed additive hampir 100% impor.
Kondisi yang ada pakan unggas yang 50% komponennya terdiri dari jagung, dalam kurun waktu 5 tahun (2004-2009) mengalami dinamika yang cukup signifikan. Dalam perkembangannya maka impor jagung mencapai puncaknya pada tahun 2006 yaitu sebesar 1,5 juta ton dari kebutuhan 3, 74 juta ton (artinya kita impor sebesar 63%).
Kebijakan
1) Dalam jangka pendek hingga menengah industri pakan ternak (ayam ras) akan tetap masih bertumpu pada pakan berbahan baku impor. Kondisi ini tidak terhindarkan, namun karena masih tingginya harga pakan yang harus dibayar peternak, maka perlu dilakukan peningkatan efisiensi dan produktivitas di level pabrik pakan.
Terdapat tiga sumber pertumbuhan produktivitas untuk pabrik pakan, yaitu : adanya perubahan teknologi pembuatan pakan ternak ke arah teknologi yang lebih efisien, efisiensi produksi ditingkatkan terutama melalui alokasi input secara lebih optimal, meningkatkan skala usaha, terutama pada pabrik pakan skala kecil, karena sifat hubungan antara biaya dengan skala usaha bersifat menurun (decreasing cost to scale).
2) Mengembangkan industri pakan ayam ras yang berbasis bahan baku domestik dengan tujuan meningkatkan daya saing produk unggas nasional. Upaya yang dapat dilakukan adalah: mengembangkan daerah produksi jagung dengan sistem distribusi yang efisien dan sistem penyimpanan modern (silo), memanfaatkan biji-bijian alternatif seperti sorgum dan limbah pertanian terutama dari industri pengolahan sawit, mengembangkan industri tepung ikan pada sentra produksi perikanan nasional, dan mendorong pihak industri pakan melakukan penelitian dan pengembangan untuk menggunakan bahan baku lokal.
|