"Kalbar dapat dijadikan contoh bagi provinsi lain agar mampu meningkatkan prestasinya, dalam pemberantasan flu burung, karena prestasi ini sangatlah membanggakan dimana tak mudah untuk membersihkan wilayah seluas Kalbar dari virus flu burung". Hal itu dikatakan Mentan Suswono saat menyerahkan sertifikat bebas flu burung kepada Gubernur Kalbar Cornelis, Senin malam (25/01), di Hotel Kapuas Kota Pontianak.
Menurut Ketua Komnas Flu burung yang jugs Wakil Mentan, Bayu Krisnamurthi, saat ini Kalbar merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerima sertifikat tersebut. Kalbar sebagai daerah yang pernah mendapatkan serangan flu burung pada Februari 2004, namun di bulan Mei 2010, serangan itu sudah tak ditemukan lagi setelah konsisten melakukan survailance ketat, pemusnahan secara hati-hati, serta tanggap memberikan vaksinasi.
Dengan perolehan sertifikat ini akan menarik minat investasi dan perdagangan, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat meningkat. Walaupun untuk mencapai prestasi ini sudah sulit, tapi lebih sulit lagi untuk mempertahankan predikat itu. "Saya berharap jangan mudah terlena",imbuhnya.
Kata Krisna, 60 persen penyakit menular bersumber dari hewan, seperti flu burung dari unggas, demam berdarah dari nyamuk, dan lain-lainnya. "Kalbar bebas flu burung tidak hanya karena telah dideklarasikan oleh Menteri Pertanian, tetapi karena didukung perilaku masyarakat yang kuat agar provinsinya bebas dad flu tuning," ujar Bayu.
Sementara itu Cornelius, Gubemur Kalbar mengingatkan, "predikat sebagai provinsi pertama di Indonesia yang menerima sertifikat bebas flu burung adalah tantangan yang berat, karena prestasi tersebut harus dapat dipertahankan jangan besar kepala dulu, Kalbar ini luasnya 1,5 pulau Jawa. Pemerintah sendiri pasti tidak mampu, jadi tetap perlu partisipasi masyarakat", imbuhnya.
Ditambahkannya, partisipasi masyarakat amatlah mudah, cukup dengan melaporkan jika ditemukan kasus, sehingga petugas bisa cepat bertindak.
Ia mengingatkan, masyarakat, pelaku bisnis dan instansi terkait akan ancaman kembali masuknya flu burung di kemudian hari kalau tidak dijaga secara bersama-sama. "Lebih sulit menjaga daripada membebaskan Kalbar dari ancaman virus itu," katanya.
Terkait hal itu, Kepala Dinas Petemakan dan Kesehatan Hewan Kalbar Abdul Manaf Mustafa menambahkan, "Setelah mendapat sertifikat, Kalbar harus meningkatkan kewaspadaan untuk menjaga agar status bebas dari virus flu burung dapat dipertahankan," katanya.
Ia mengakui upaya mendapatkan sertifikat itu tidak mudah dan membutuhkan kerja keras. Sejak Januari 2007 telah diajukan permohonan pemberian sertifikat karena kasus terakhir flu burung ditemukan pada 2005.
Sedangkan dana yang dialokasikan untuk program bebas flu burung sejak 2005 mencapai Rp 2 miliar. Setidak-tidaknya 17 ribu spesimen telah dikumpulkan selama rentang waktu tersebut dan tidak ditemukan adanya virus flu burung.
Abdul Manaf menggandeng TNI AL untuk menjaga Kalbar dari virus flu burung, mengingat ada 1.500 kilometer garis pantai yang harus dijaga," imbuhnya.
Selain itu, memperketat pengawasan terhadap upaya memasukkan hewan atau unggas dari luar Kalbar. Adanya sertifikat bebas flu burung juga membuat petemakan luar Kalbar harus berupaya agar mendapat status yang sama, ujarnya.
Manaf mengatakan, Kalbar bebas dari flu burung tidak dicapai dengan mudah tetapi butuh perjuangan sekitar enam tahun, dari pertama diketahui diserang flu burung Februari 2004 lalu.
Untuk itu dibutuhkan kerja sama yang baik antara masyarakat, pelaku bisnis dan pemerintah dalam menjaga status bebas flu burung tersebut. Ia meminta, baik masyarakat, pebisnis dan pemerintah untuk tidak terlena dengan status bebas flu burung itu. Tetapi untuk tetap komitmen dalam menjaga provinsi itu agar selamanya bebas dari flu burung.
|