Sebuah komitmen nyata dibuktikan oleh Tarakan. Pulau dan sekaligus kota di utara Propinsi Kalimantan Timur ini memiliki komitmen dan perencanaan yang matang dalam pengendalian penyakit hewan. Pulau kecil ini memiliki arti penting dalam pembangunan subsektor peternakan dan menjadi penyangga dalam memenuhi kebutuhan protein bagi masyarakat Indonesia yang berbatasan de-ngan wilayah Malaysia Timur dan Filipina. Pulau ini memiliki potensi yang besar untuk ekportasi produk ternaknya ke Sabah maupun Brunai Darussalam. Pengembangan subsektor peternakan di pulau ini diperlukan untuk menghambat masuknya produk-produk peternakan asal Malaysia yang masuk secara ilegal ke Tarakan maupun Kabupaten Nunukan yang berada di utara pulau ini.
Tarakan memiliki populasi ayam buras sekitar 266.177 ekor, ayam broiler 2.775.700 ekor, ayam petelur 78.350 ekor, itik 1.218 ekor dan puyuh 283 ekor. Relatif tidak banyak, tetapi patut untuk bisa dikembangkan sehingga bisa menunjang kebutuhan Kalimantan Timur dan dapat diproyeksikan kearah importasi ke negara tetangga.
Selama ini produk asal unggas terutama telur dan ayam potong banyak masuk dari Negara tetangga ke beberapa pulau di utara pulau ini. Alasan adanya permintaan dan harga yang relatif lebih murah menyebabkan produk unggas asal Tawao memasuki kawasan Kalimantan Timur sebelah utara, termasuk Tarakan dan Nunukan.
Dalam upaya untuk membuktikan bahwa Pulau Tarakan bebas AI, Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Tarakan pada awal tahun 2009 bekerjasama dengan BPPV Regional V Banjarbaru telah menjalin kerjasama untuk merancang surveilans dan pengujian avian influenza dengan kajian epidemiologis untuk bisa menyatakan bahwa pulau ini memang bebas dari AI. Kompartementalisasi sekaligus zonasi diterapkan dalam kajian dengan memperhatikan konsep zonasi dan kompartementalisasi yang diatur oleh OIE. Proporsal dan design surveilans telah dirancang oleh Epidemiologist BPPV Regional V Banjarbaru dan disetujui penganggarannya oleh Pemda Kota Tarakan. Menurut Drh. Subandi, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Tarakan yang meniti karier dari level paling bawah sebagai Kepala Poskeswan Krayan di daerah terpencil di perbatasan Malaysia, mengatakan penganggaran sengaja dialokasikan dari APBD Kota Tarakan tahun 2009 sebagai perwujudan komitmen pemerintah Kota Tarakan dan masyarakat perunggasan Kota Tarakan terhadap AI, walaupun isolat virus AI belum pernah ditemukan di Kota Tarakan. Komitmen saja tidak cukup, harus ada wujud nyata dalam pengendalian AI, terutama dalam pengang-garan untuk surveilan dan pengujian dalam rangka pengendalian AI. Bioskuriti dan vaksinasi telah dilakukan untuk AI, diperlukan evaluasi dan pembuktian bahwa AI memang telah terkendali, kata Drh. Sukamto yang mendampingi Kadistannak Kota Tarakan.
Keberhasilan penganggaran dalam rangka surveilans AI tahun 2009, akan disusul dengan perencanaan dan penganggaran tahun 2010 untuk menyatakan Pulau Tarakan bebas rabies berdasarkan design surveilans berbasis epidemiologis.
|