Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H Mohon Maaf Lahir Dan Batin
HOME  PROFIL  PUBLIKASI  GALERI  BUKU TAMU  PETA SITUS
 DIREKTORAT
  Sekretariat
  Perbibitan
  Ruminansia
  Non Ruminansia
  Kesehatan Hewan
  Kesmavet
 
 BALAI / UPT
 
 P S D S
 
 K U P S
 
 S M D
 
 S P I
 
 L M 3
 
 REGULASI
 
 BASIS DATA
 
 PETA SAPI POTONG
 
 SITUS TERKAIT
  Dinas Peternakan Provinsi
  Instansi Lain
  Kementerian Pertanian RI
 
  WEB MAIL
 
PENGUNJUNG
 
 
Banjarbaru, 22 April 2009
Workshop Dan Pelatihan Profilling Surveilans A.I.

Avian Influenza merupakan salah satu penyakit viral zoonotik, bersifat pan-demik dan telah masuk serta menyebar ke berbagai pulau di Indonesia, termasuk Kalimantan. Penyakit ini masuk ke Kalimantan tahun 2004 karena adanya “ importasi” kandang baterai bekas dari Jawa Timur yang telah terserang AI terlebih dahulu. AI pertama kali menyerang sektor 2 (peternakan ayam layer) di Kecamatan Bati-bati, Kabupaten Tanah Laut yang menyebabkan kematian 10.000 lebih ayam layer fase produksi. Dalam waktu yang tidak lama, kasus ditemukan pada sektor 3 (ayam broiler) di Kota Banjarbaru yang menyebabkan kematian kurang lebih 5000 ekor broiler dalam waktu 2 hari di Desa Palm, Kecamatan Cempaka. Penyebaran AI di Kalimantan Selatan berjalan dengan cepat karena berbagai faktor. Dari arah selatan propinsi ini bergerak ke utara hingga ke sentra pengembangan itik alabio, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Serangan AI pada itik alabio ditandai secara mencolok dengan tidak adanya nafsu makan pada itik terserang dan berhentinya secara total produksi telur pada itik layer dalam waktu seminggu. Beberapa itik layer menunjukkan adanya tortikolis (kepala berputar). Pada anak itik fase grower ditandai dengan tortikolis dan kematian. Masuknya AI ke daerah sentra pengembangan itik di Kabupaten Hulu Sungai Utara diduga kuat karena lalulintas sarana peternakan (mobil penganngkut, dan masuknya egg tray) dari daerah tertular di Kabupaten Tanah Laut maupun Kota Banjarbaru. Lalu lintas mobil pick up pedagang ayam broiler (broker) dari sentra produksi broiler di Banjarbaru dan Kab. Tanah Laut sulit diduga kuat telah berperan dalam memindahkan virus AI dari kedua kabupaten/kota ini ke tempat lain. Lalu lintas mobil pick up milik pedagang atau broker, juga perpindahan sarana produksi dari zona tertular ke zona bebas merupakan beberapa faktor resiko (risk factor) penting dalam alur penyebaran virus AI. Acara pembukaan Workshop Surveilans Pembebasan AI pada itik alabio dan Peltihan Profiling Kalimantan Selatan telah berupaya mengendalikan AI dengan beberapa prosedur, pemusnahan, desinfeksi, vaksinasi. Khusus vaksinasi, Dinas Peternakan telah menghentikan program ini untuk sektor 4 dan 3. Vaksinasi AI hanya dilakukan di sektor 2 dan 1 oleh masing-masing pengusaha. Kondisi umum berdasarkan penelusuran yang dilakukan oleh petugas PDSR, tidak ditemukan adanya kasus AI di lapangan. Bekerjasama dengan BPPV dan FAO, propinsi ini menyiapkan diri untuk melakukukan surveilans secara representatif untuk mengevaluasi kondisi akhir dalam rangka pernyataan bebas AI. Peternakan sektor 1 dan beberapa sektor 2 di Propinsi ini telah menerapkan prinsip Good Breeding Practice (GBP) dan Good Farming Practice (GFP), dan telah melakukan surveilans serta pengujian terhadap AI sehingga telah siap untuk bisa dinyatakan dan disertifikasi sebagai Kompartemen Bebas AI dengan Vaksinasi sesuai dengan ketentuan Terrestrial Animal Health Code, OIE dan Permentan. Upaya pengendalian AI pada itik alabio telah dilakukan secara maksimal oleh Dinas Peternakan Propinsi Kalimantan Selatan dan Dinas Peternakan Kabupaten Hulu Sungai Utara berupa desinfeksi kandang terinfeksi dan vaksinasi. Vaksinasi dilakukan secara massal hingga akhir tahun 2007 pada DOD di sentra penetasan itik. Hasil surveilans awal yang dilakukan oleh tim FAO, bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan BPPV Regional V Banjarbaru berupa serosurveilans menunjukkan bahwa seroprevalensinya sangat rendah, kurang dari 1%. Serosurveilans tahap I telah dilakukan di 4 kecamatan dan sampel diambil dari 5 farm dan jumlah sampel serum yang diuji sebanyak 631 sampel. Kondisi ini memberi harapan bahwa kondisi peternakan itik di Kabupaten Hulu Sungai Utara kemungkinan memang telah bebas dari AI. Surveilans dengan design sampling yang baik diperlukan untuk langkah berikutnya dalam rangka mendukung atau memfasilitasi pernyataan bebas HPAI pada sentra budidaya itik di 3 kabupaten (Kab.Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Selatan) dan juga propinsi Kalimantan Selatan secara keseluruhan. Untuk mendapatkan hasil sam-pling yang baik diperlukan perencanaan yang baik termasuk pendataan tentang populasi itik di lokasi sampling. Data dasar kepemilikan itik, lokasi peternakan itik sangat diperlukan perencanaan random sampling yang baik. Sesuai dengan ketersediaan dana FAO dan jangka waktu, peternak itik terpilih yang akan disurveilans dibatasi yang memiliki itik 100 ekor lebih. Pemilihan peternak dilakukan secara random sampling dengan memper-hatikan juga tingkat kepadatan peternak berdasarkan titik koor-dinat GPS. Workshop surveilans tanggal 2 Maret 2009 diikuti oleh tim FAO, Direktorat Kesehatan Hewan, CMU/UPPAI Pusat, RMU/UPPAI Regional (BPPV Regional V Banjarbaru), Dinas Peternakan Propinsi, Dinas Peternakan Kabupaten Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, dan Hulu Sungai Selatan. Sedangkan pelatihan profiling diikuti oleh enumerator dari 3 kabupaten yang akan melaksanakan tugas pendataan peternak itik, dengan fasilitator dari tim CREATE Bogor dan FAO. Materi pelatihan mencakup cara pengisian form atau borang pendataan peternak dan penggunaan GPS. Adapun materi workshop disampaikan oleh FAO, Dinas Peternakan Propinsi, Dinas Peternakan Kabupaten dan BPPV Regional V Banjarbaru. Suatu langkah maju dalam program surveilans untuk pengendalian AI dan zonasi di Indonesia.

Indeks berita
 
 
PENCARIAN
di Google
ditjennak.go.id
powered by :
 
 
 
AGENDA KEGIATAN
 
 
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan - Kementerian Pertanian Republik Indonesia
Gedung C Lt.6, Jl. Harsono RM 3 Ragunan Jakarta - Selatan
Telp: +62 21 782 7912, Fax: +62 21 781 5581, Email: webmaster@ditjennak.go.id