Pemetaan penyakit hewan di Indonesia merupakan hal yang penting untuk mengetahui distribusi penyakit berdasarkan hasil surveilans dan pengujian laboratorium maupun pengamatan klinis di lapangan. Peta yang baik bisa
memberikan informasi secara cepat distribusi penyakit dan intensitas penyakit di suatu lokasi, sehingga secara cepat pula interpretasi dan kesimpulan dapat diambil secara cepat bagi pengendalian penyakit hewan. Untuk itu harus didukung dengan sistem surveilans yang baik pula melalui rancangan sampling yang benar.
Dalam surveilans penyakit hewan, unit terkecil populasi yang lazim digunakan adalah desa. Bila kasus positif suatu penyakit ditemukan dalam suatu desa maka desa dimaksud akan diblok dengan warna merah, jingga, kuning atau hijau berdasarkan intensitas atau prevalensi penyakit yang ditemukan.
Pemetaan penyakit hean yang "konvensional" adalah yang dilakukan secara makro dengan memberi warna merah atau warna lain dari suatu kabupaten, propinsi, zona, pulau atau negara. Pemetaan demikian memiliki kelemahan karena tidak menggambarkan status sesungguhnya yang terjadi dalam suatu wilayah dan sering kali menimbulkan ketidakpuasan dan protes oleh pihak terkait yang memiliki tanggungjawab dalam pengendalian penyakit hewan karena semua wilayahnya
terblok atau terwarnai merah. Kondisi yang sangat bias diterima bila wilayahnya terwarnai hijau, yang berarti tidak ada penyakit ditemukan.
Seiring dengan perkembangan teknologi berbasis GIS (geographic information system), pemetaan penyakit hewan ke depan akan diarahkan pada letak koordinat kasus di atas bumi yang diperoleh melalui GPS receiver. Dengan demikian
secara internasional semua orang bisa mengetahui secara persis lokasi kasus penyakit hewan. Dengan memberikan informasi letak koordinat di muka bumi maka pelacakan
lokasi kasus akan mudah ditemukan melalui bantuan google earth. Dengan membawa piranti GPS receiver, semua orang yang memiliki ketrampilan dalam mengoperasikan GPS receiver dengan mudah bisa mendatangi dan mendapatkan lokasi kasus secara tepat.
Pelatihan pemetaan penyakit hewan berbasis GPS telah dilakukan oleh FAO bagi RMU Banjarbaru dan LDCC Prop. Kalsel di Aula BPPV Regional Banjarbaru yang berlangsung selama 1 minggu dari tanggal 6-10 Juli 2009 dengan yang dilakukan oleh GIS National Specialist dari FAO. Dengan dimilikinya ketrampilan dalam pemetaan penyakit berbasis GIS, maka dalam setiap pelaksanaan surveilans penyakit ke depan, pelaksana harus menggunakan GPS receiver.
|