Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H Mohon Maaf Lahir Dan Batin
HOME  PROFIL  PUBLIKASI  GALERI  BUKU TAMU  PETA SITUS
 DIREKTORAT
  Sekretariat
  Perbibitan
  Ruminansia
  Non Ruminansia
  Kesehatan Hewan
  Kesmavet
 
 BALAI / UPT
 
 P S D S
 
 K U P S
 
 S M D
 
 S P I
 
 L M 3
 
 REGULASI
 
 BASIS DATA
 
 PETA SAPI POTONG
 
 SITUS TERKAIT
  Dinas Peternakan Provinsi
  Instansi Lain
  Kementerian Pertanian RI
 
  WEB MAIL
 
PENGUNJUNG
 
 
Banjarbaru, 16 Juli 2009
Pemetaan Penyakit Hewan Berbasis G.I.S.

Pemetaan penyakit hewan di Indonesia merupakan hal yang penting untuk mengetahui distribusi penyakit berdasarkan hasil surveilans dan pengujian laboratorium maupun pengamatan klinis di lapangan. Peta yang baik bisa memberikan informasi secara cepat distribusi penyakit dan intensitas penyakit di suatu lokasi, sehingga secara cepat pula interpretasi dan kesimpulan dapat diambil secara cepat bagi pengendalian penyakit hewan. Untuk itu harus didukung dengan sistem surveilans yang baik pula melalui rancangan sampling yang benar. Dalam surveilans penyakit hewan, unit terkecil populasi yang lazim digunakan adalah desa. Bila kasus positif suatu penyakit ditemukan dalam suatu desa maka desa dimaksud akan diblok dengan warna merah, jingga, kuning atau hijau berdasarkan intensitas atau prevalensi penyakit yang ditemukan. Pemetaan penyakit hean yang "konvensional" adalah yang dilakukan secara makro dengan memberi warna merah atau warna lain dari suatu kabupaten, propinsi, zona, pulau atau negara. Pemetaan demikian memiliki kelemahan karena tidak menggambarkan status sesungguhnya yang terjadi dalam suatu wilayah dan sering kali menimbulkan ketidakpuasan dan protes oleh pihak terkait yang memiliki tanggungjawab dalam pengendalian penyakit hewan karena semua wilayahnya terblok atau terwarnai merah. Kondisi yang sangat bias diterima bila wilayahnya terwarnai hijau, yang berarti tidak ada penyakit ditemukan. Seiring dengan perkembangan teknologi berbasis GIS (geographic information system), pemetaan penyakit hewan ke depan akan diarahkan pada letak koordinat kasus di atas bumi yang diperoleh melalui GPS receiver. Dengan demikian secara internasional semua orang bisa mengetahui secara persis lokasi kasus penyakit hewan. Dengan memberikan informasi letak koordinat di muka bumi maka pelacakan lokasi kasus akan mudah ditemukan melalui bantuan google earth. Dengan membawa piranti GPS receiver, semua orang yang memiliki ketrampilan dalam mengoperasikan GPS receiver dengan mudah bisa mendatangi dan mendapatkan lokasi kasus secara tepat. Pelatihan pemetaan penyakit hewan berbasis GPS telah dilakukan oleh FAO bagi RMU Banjarbaru dan LDCC Prop. Kalsel di Aula BPPV Regional Banjarbaru yang berlangsung selama 1 minggu dari tanggal 6-10 Juli 2009 dengan yang dilakukan oleh GIS National Specialist dari FAO. Dengan dimilikinya ketrampilan dalam pemetaan penyakit berbasis GIS, maka dalam setiap pelaksanaan surveilans penyakit ke depan, pelaksana harus menggunakan GPS receiver.

Indeks berita
 
 
PENCARIAN
di Google
ditjennak.go.id
powered by :
 
 
 
AGENDA KEGIATAN
 
 
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan - Kementerian Pertanian Republik Indonesia
Gedung C Lt.6, Jl. Harsono RM 3 Ragunan Jakarta - Selatan
Telp: +62 21 782 7912, Fax: +62 21 781 5581, Email: webmaster@ditjennak.go.id